Selasa, 19 April 2011

Menerima Amanah


Amanah...

Ya, mendengar kata itu diri ini merasa berat dan takut seperti yang terdapat dalamsurat Al-Ahzab ayat 72:

“Sesungguhnya KAMI telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka semua enggan memikulnya karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh…” (QS 33/72).

Setiap kali teringat akan makna dari surat ini serasa diri ini ingin tidak memikul dan menerima amanah yang dipercayakan pada diri. Tetapi sebenarnya amanah itu sudah menjadi fitrah dan mau tidak mau  menjadi keharusan karena sesungguhnya diri ini adalah amanah untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Dan dalam sebuah Hadits “Ada 4 perkara yang jika semuanya ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang terlepas darimu dalam dunia: Benar ketika berbicara, menjaga amanah, sempurna dalam akhlaq, menjaga diri dari meminta.” (HR Ahmad ).

Tetapi apalah arti amanah seorang manusia seperti diri ini jika dibandingkan dengan amanah yang di emban Rasulullah SAW. Rasulullah menerima amanah yang lebih besar dan sangat agung. Namun bagaimana sikap Rasulullah ketika manerima amanah tersebut? Apakah menolak? Tentu tidak! Rasulullah menerima tugas dan amanah ini dengan lapang. Mari sejenak kita buka Al – Qur’an surat Al – Muzzamil ayat 1 – 20, baca kemudian pamahi! Dalam surat Al – Muzzamil ini kita bisa melihat bahwa Rasulullah menerima amanah yang cukup berat... seperti yang kita ketahui Rasulullah begitu takut ketika wahyu itu datang kepadanya hingga gemetar seluruh tubuh. Surat Al Muzzmil erat kaitannya dengan amanah yang diberikan Allah kepada Rasulullah melalui perantara malaikat jibril.
Lalu Kandungan apa yang termuat dalam surat tersebut?
1. tugas dan beban yang agung
2. urusan yang serius
3. kedahsyatan yang bertubi – tubi yaitu meliputi kedahsayatan ucapan yang berat, ancaman yang menakutkan dan posisi Kandungan dalam surat Al – Muzzamil dibagi menjadi dua yaitu pada Ayat 1 – 19 dan ayat 20

*Pada ayat 1 – 19
1. seruan yang memuat tugas dan beban
2. persiapan untuk memikul tugas dan beban seruan yang harus di emban ini tidak hanya langsung di jalankan begitu saja namun diperlukan amunisi – amunisi yang cukup untuk mengemban amanah ini. Adapun persiapan yang harus dilakukan yaitu :
- QL
- Shalat Tepat Waktu
- Membaca Al – Qur’an secara tartil
- Dzikir yang penuh kekhusyuan
- Bertawakal kepada Allah SWT
- Menjauhi menghindari dengan baik
- Bersabar
- Membiarkan urusan para pendusta

*Pada ayat 20
1. Allah memberikan kerianganan, kelembutan, kasih sayang dan kemudahan kepada hamba – Nya
2. arahan untuk melakukan taat kepada Allah SWT
3. isyarat terhadap rahmat dan pengampunan Allah SWT
Pada mulanya shalat malam adalah hal yang WAJIB dilaksanakan namun kemudian Allah memberikan keringanan menjadi tidak wajib namuan barang siapa yang mengerjakannya akan diberik keutamaan yang sangat bagus. Karena bangun malam merupakan salah satu juhad yaitu jihad melawan nafsu kita. 

Surat lain lagi yang masih bersinggungan dengan surat Al Muzzamil yaitu Al Mudtasir. Mari kita baca dan pahami maksudnya!
Surat al muddatstsir dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu :
1. Al maktho Al awa’a (ayat 1 - 7)
- Diawali dengan panggilan dari Allah kepada NAbi Muhammad untuk memikul suatu urusan yang besar
- Allah seakan menserabut Nabi dari keadaan berselimut kepada keadaan berjihad
- Arahan kepada nabi agar beliau bersiap untuk urusan yang agung
- Taujih kepada nabi yiatu taujih rabbaniyah
2. Al Maktho Al Tsani (ayat 8 - 10)
- ancaman kepada orang yang mendstakan akhirat
3. Al Maktho Al tsalis (Ayat 11 - 31)
- tipe orang yang dusta
- sebab dan penyebab mengapa ia mendapatkan pernyataan perang dari Allah
- perjalanan akhir sang pendusta
Adapun ciri – ciri orang yang berdusta yaitu :
- Allah telah memberi kekuasaan yang sangat benyal
- Allah memberi putra – putri
- Allah telah limpahkan kenikmatan dan kedudukan
- Namun orang tersebut masih menginginkan tembahan kenikmatan yang lebih banyak lagi
- Namuan orang yang bergelimang harta ini membangkang dari ayat – ayat Allah
4. Al Maktho Al Rabi (ayat 31 - 48)
- makna neraka saqar. Yaitu didalamnya terdapat orang yang suka membuang waktu dan mendustakan ayat – ayat Allah SWT
5. Al Maktho Al khamis ( ayat 49 – 56)
- Orang – orang yang memiliki Sikap Al – Muthadzibin (ada dakwah namun menghindar)
- Adapaun penyebab orang – orang tersebut menghindari dari dakwah yaitu : hasad (iri dan dengki), sedikit takut pada Allah

Teringat kata2 seorang ka2 kelas “ketika kita diberikan suatu amanah, bukan semata2 orang lain menilai kita yang pantas memikul itu tetapi lebih dari itu Sesungguhnya itu karena Allah PERCAYA bahwa kita lah yang layak dan mampu menyelesaikannya”. Dan ketika mendengar kata2 itu, diri ini tersentuh dan tergugah untuk berazam dalam diri “ Uci akan buktiin klo Allah ga Salah pilih dan ga akan ngecewaiin Allah dalam amanah apapun yang Allah PERCAYA kan pada diri ini.....”
Amiin Ya Rabb...

Wallahualam...

SEMANGAT...
CERIA...
TANGGUH...

Uchi Maru
^_^,v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar