Amanah...
Ya, mendengar kata itu diri ini merasa berat dan takut
seperti yang terdapat dalamsurat Al-Ahzab ayat 72:
“Sesungguhnya KAMI telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka semua enggan memikulnya karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh…” (QS 33/72).
Setiap kali teringat akan makna dari surat ini serasa diri
ini ingin tidak memikul dan menerima amanah yang dipercayakan pada diri. Tetapi
sebenarnya amanah itu sudah menjadi fitrah dan mau tidak mau menjadi
keharusan karena sesungguhnya diri ini adalah amanah untuk menjadi pemimpin
bagi diri sendiri. Dan dalam sebuah Hadits “Ada 4 perkara yang jika
semuanya ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang terlepas darimu
dalam dunia: Benar ketika berbicara, menjaga amanah, sempurna dalam akhlaq,
menjaga diri dari meminta.” (HR Ahmad ).
Tetapi apalah arti amanah seorang manusia seperti diri ini
jika dibandingkan dengan amanah yang di emban Rasulullah SAW. Rasulullah
menerima amanah yang lebih besar dan sangat agung. Namun bagaimana sikap
Rasulullah ketika manerima amanah tersebut? Apakah menolak? Tentu tidak!
Rasulullah menerima tugas dan amanah ini dengan lapang. Mari sejenak kita buka
Al – Qur’an surat Al – Muzzamil ayat 1 – 20, baca kemudian pamahi! Dalam surat
Al – Muzzamil ini kita bisa melihat bahwa Rasulullah menerima amanah yang cukup
berat... seperti yang kita ketahui Rasulullah begitu takut ketika wahyu itu
datang kepadanya hingga gemetar seluruh tubuh. Surat Al Muzzmil erat kaitannya
dengan amanah yang diberikan Allah kepada Rasulullah melalui perantara malaikat
jibril.


.jpg)